Free Your Mind Write what i feel, write what i think.

Kamis, 26 Oktober 2017

P(a)s(rah)

Pada suatu akhir

Aku berdoa untuk sebuah koma diantara titik yang tak terarah.

Disaat keihklasan adalah suatu keharusan,
Aku berharap kesemogaan diantara ketidakmungkinan.

Mengusahakan disela kepasrahan.

Menunggu jawaban untuk sebuah kepastian dari melepaskan yang tak terelakan.

Kamis, 12 Oktober 2017

Lelah.



Bertemu denganmu di waktu yang tak tepat.
Disaat semuanya belum terlambat
Aku pernah menyerah sebelum aku kalah.
Mencoba meninggalkanmu saat aku lelah.

Sebelum semuanya semakin parah akhirnya aku menyerah
Mempertahankanmu tidaklah mudah
Buat apa bertahan tapi tak ditahan?
Aku hanya perlu memilih diantara berlari atau berhenti
Sebelum aku sadari bahwa keduanya sama-sama tak berarti.

Selasa, 13 Juni 2017

Hujan Dan Rindu Yang Tak Tertahankan


Aku pernah bertemu denganmu sekali dibawa hujan.

Saat itu aku tak membawa jas hujan kemudian kuhentikan perjalanan.

Aku ingat, waktu itu pukul delapan.

Didepan hatle bis dekat lapangan.

Kamu sedang asyik-asyiknya menulis disebuah buku catatan.

Sekilas kulihat kamu menulis sesuatu tentang harapan.

Tanpa sadar aku bertanya, apa yang kamu tuliskan?

Kamu bilang itu puisi, untuk mantan.
Kamu bilang kamu rindu padanya tak tertahankan.
Kamu bilang akan memberikannya ketika telah terselesaikan.

Aku bertanya kembali, setelah kamu berikan apa yang akan yang akan kamu dapatkan?

Kamu dia sejenak, tertegun.

Lalu kamu tersenyum dan memberikan jawaban.

"Rindu hanya perlu disampaikan meskipun tak terbalaskan".

Minggu, 11 Juni 2017

Resah


Aku melangkah tak tentu arah.

Menjauhi rasa marah yang semakin parah.

Iya aku patah, sejak kamu pergi aku kehilangan arah.

Awalnya kukira tanpamu hariku lebih bergairah namun aku salah, aku semakin resah.

Aku marah kepada kita yang tak pernah mau mengalah.

Aku tau kamu lelah, bersama diriku selalu saja banyak masalah.

Siapa yang salah? Tentu saja aku, katamu tak bersalah.

Tidak masalah, aku terbiasa disalahkan.

Kenyataannya memang aku yang salah.
Tapi kamu lupa, kamu yang membuatnya semakin parah.

Sudahlah, jika kita adalah masalah alangkah baiknya kita berpisah.

Biarlah kali ini aku yang mengalah
dan kemudian pergi melangkah berlawanan arah.