Free Your Mind Write what i feel, write what i think.

Senin, 30 Januari 2017

Membeku



Membuka kembali bukti-bukti pembekuan waktu yang telah kita lalui.
Kenangan yang membeku bersama waktu yang telah berlalu.

Tulisan singkat tentang aku dan kamu.
Ya aku dan kamu, kita pernah menjadi sebuah bagian dari waktu yang terus berputar tanpa jeda.

Kita pernah berjanji untuk selamanya mengukir cerita kita dengan waktu.
Tapi aku tau selamanya itu tidak pernah ada.

Kita hanyalah manusia biasa yang terus berubah seperti waktu.
Mungkin bisa terulang tapi semua tak lagi sama.

Kau tau mengapa orang menulis?
Menulis itu membekukan sesuatu yang tidak terbentuk.
Menggambarkan ribuan hal yang dipikirkan.
Meluapkan sejuta harapan yang dirasakan.
Menjelaskan perasaan yang tak terucap.

Karna suatu hari ketika hati tak lagi merasa, otak tak lagi mengingat.
Kau akan tau bahwa tulisanmu adalah bukti dari sisa-sisa suatu rasa yang tak biasa.


Selasa, 29 November 2016

Jam Tangan


Menyebalkan, satu kata yang selalu ku ucapkan tiap hari
ibu selalu memarahiku setiap kali aku terlambat pulang sekolah. Apa salahnya? Aku hanya bermain, berkeliling dan berdiam diri di taman kota hingga sore tiba. Jujur saja aku sengaja melakukan ini karena lari dari tugasku membantu ayah mengantarkan pesanan barang. Sungguh itu hal yang sangat  membosankan, aku harus menghabiskan waktu sepulang sekolah setiap hari hanya untuk melakukan hal itu, mengendarai sepeda dari rumah ke rumah di siang hari yang terik. sedangkan anak-anak lain dengan santainya menghabiskan waktu bermain bersama teman-temannya seharian.
Walaupun ibu sering memarahiku tapi aku tak pernah bosan untuk melanggar perintahnya. Aku lebih suka membuang-buang waktuku untuk melakukan hal-hal lain yang tidak berguna salah satunya berdiam diri di taman ini.
Sudah tiga bulan aku melakukan rutinitas ini, aku merasa bebas namun terasa ada yang kurang, entah apa aku tak tahu. Maksudku, aku sudah tidak melakukan hal membosankan itu dan melakukan hal yang menyenangkan tapi tetap saja aku tak merasa bebas sepenuhnya.

Jam menunjukkan pukul 16:00, seperti biasa aku menghabiskan waktu duduk di tepi kolam ikan taman kota dan kali ini aku melihanya lagi 
Laki-laki itu selalu duduk disana tepat di seberangku, dia terlihat lebih tua dariku sekitar berumur dua puluh tahunan.
aktifitasnya selalu sama, ia hanya menatap langit sembari mengarahkan ponselnya seperti hendak mengabadikan suatu moment setelah itu ia melihat sekitar dan sesekali melihat jam tangannya. Aku selalu penasaran, mengapa tiap kali ia melihat jam tangannya ekspresinya selalu berubah seakan-akan ada sesuatu yang mengejarnya. Karena tiap kali hendak meninggalkan Taman ia tampak selalu terburu buru.
Laki-laki itu tak pernah absen dari sana setiap hari dan mengulang aktifitas yang sama.
Namun suatu hari aku melihat ada yang janggal dari aktifitasnya. Bisa kau tebak apa?

Kali ini tak kulihat ia menggunakan jam tangannya. Akan tetapi aktifitasnya tetap berlanjut seperti biasa dan kurasa kali ini ia lebih lama berdiam diri disana
Aku bergegas pulang karena jam menununjukan pukul 18:00 karena tak ingin ibu lebih lama memarahiku jika aku lebih telat pulang ke rumah. Aku berjalan melewati laki-laki itu, baru kali ini rasanya aku pulang lebih dahulu dari dia. Tiba-tiba saja dia menarik tanganku, dengan spontan aku terkejut dan menoleh kearahnya

"A..Ada apa ya? Mengapa kau menarik tanganku?" Aku tergagap

"Oh maaf, aku hanya ingin bertanya jam berapa sekarang? Kurasa jam di ponselku salah, langit tampak gelap namun jam ponselku menunjukkan pukul 17:00" ucapnya sambil memperlihatkan ponselnya.

Aku mengangguk kemudian membuka tas untuk mengambil ponsel bututku, jelas sangat berbeda dengan ponsel canggihnya.
"Sekarang jam 18:15 kak" ku arahkan ponselku ke wajahnya.
" ya ampun, " jeritnya sambil menepuk dahi.

Teriakannya cukup membuatku terkejut, bagaimana tidak suasana di taman hari ini sangat sepi dan tiba-tiba saja dia berteriak seperti itu. Sebelum sempat aku bicara, dia sudah bergegas pergi 
"Terima kasih Windy" teriaknya dari kejauhan 

Aku hanya bisa diam dan melanjutkan perjalananku ke rumah, dalam hati aku terus bertanya-tanya, bagaimana dia tau namaku? Kuputuskan besok sore aku akan bertanya padanya di taman.
.
.
.
3 hari kemudian
.
.
Hari-hari berlalu tapi tak kulihat batang hidung laki-laki itu
Sudah beberapa hari ini aku tak melihatnya di taman, kemana laki-laki itu? Aneh sekali, sudah lama tak melihat dia duduk di sana. Rasa penasaran dengan laki-laki itu semakin mengerogotiku, hari-hari santaiku di taman berubah menjadi hari-hari penuh penantian. 
"Sialan kenapa orang asing ini membuatku gila, benar-benar penasaran setengah mati " gerutuku 
Aku hendak beranjak pergi dan seketika aku melihat dia berjalan dan duduk di kursi itu.
 "Wow akhirnya dia datang kali ini" 
Aku kembali duduk sambil memperhatikannya seperti biasa
Setelah beberapa hari tak muncul, aktifitasnya berubah drastis dia tak lagi menatap langit dan tak lagi menoleh jam tangannya sedikitpun. Dua jam berlalu, dan dia hanya diam sama sekali tanpa melakukan apapun.
Kuputuskan menghampirinya untuk menghilangkan rasa penasaranku.

"Umm hai" sapaku ragu-ragu

"Oh hai juga, kau gadis yang waktu ini kan? Mmmm.... Windy?" Ucapnya tersenyum namun tampak lesu

"Iya, kok kakak bisa tau namaku? Padahal aku tak pernah merasa pernah berkenalan denganmu" tanyaku sambil menatap wajahnya.

"Hahaha itu aku lihat diseragam sekolahmu waktu menarik tanganmu"  
Jawabnya dengan tawa

Aku merasa kaku, mengapa aku lupa kalo seragam sekolahku tercantum nama lengkapku. Rasanya konyol sekali aku sampai penasaran setengah mati hanya karena hal tersebut.

"Ha...ha...ha... Iya ya aku baru sadar" ucapku dengan tawa renyah
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi? Beberapa hari ini kau tak mengunjungi taman kak, dan kulihat hari ini aktifitasmu berbeda. Tak lagi menatap langit dan melihat jam tanganmu" aku melanjutkan pertanyaan untuk menyelesaikan semua rasa penasaranku

"Bagaimana kau tau?" Tanyanya mengerutkan dahi

"Tanpa sengaja aku memperhatikanmu setiap kali kau ke sini kak, kau cukup menarik perhatianku dengan aktifitasmu yang selalu sama berulang-ulang" jawabku tersipu malu

"Kehabisan waktu" jawabnya singkat

"Maksudmu? Aku tak mengerti" 

"Kau tau, tiga hari yang lalu aku lupa memakai jam tanganku dan jam ponselku salah, sehingga adikku kecelakaan dan meninggal dunia karena aku terlambat menjemputnya di tempat kursus musiknya, dia mencoba untuk pulang sendiri karena bosan menungguku, lalu ada mobil melaju kencang yang menabraknya. Semua ini karena hobi foto konyolku, menunggu sekelompok burung yang lewat di langit taman ini setiap sore. Aku membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna dan akhirnya jadi seperti ini." Ucapnya dengan mata berkaca-kaca

Aku tercengang dadaku serasa tertusuk pisau, aku menyadari sesuatu yang terasa kurang dibenakku telah terisi. Menghabiskan waktu seperti ini seperti bukan benar-benar yang aku inginkan 
Dan ya, ternyata aku hampir mirip seperti dia. Menghabiskan waktu untuk hal yang tidak berguna. Aku masih terdiam dan tiba-tiba saja laki-laki itu melepaskan jam tangannya dan menaruhnya di tanganku.
"Bawa jam ini Windy, gunakanlah sebagai pengingat untuk setiap waktu yang kau gunakan. aku telah banyak belajar bagaimana waktu sangat berharga dalam kehidupanku dan aku baru menyadari telah banyak menyia-nyiakan waktuku" ucapnya sambil menggenggam tanganku.

"Terima kasih kak, aku belajar banyak darimu" jawabku singkat dan menggenggam erat jam tangan itu.
Aku berlari meninggalkannya, tak sabar ingin segera sampai dirumah, ayah dan ibu pasti sudah menungguku. Satu hal yang aku dapatkan dari kejadian ini, waktuku yang telah berlalu memang telah hilang tak berguna, akan tetapi pelajaran yang kudapat dari semua itu adalah waktu di hari esok yang akan kugunakan sebaik mungkin untuk menebus semua waktu yang telah berlalu tanpa makna.


Rabu, 23 November 2016

Percakapan Senja

Diawali dengan percakapan senja diminggu kedua bulan juli.
Kita hanya individu yang bertemu karna waktu.
Tanpa sengaja dibawah langit senja bercerita tentang kehidupan dari sudut pandang berbeda yang tak semua orang memahaminya.
Esok hari kita bertemu lagi diwaktu yang sama, namun di lokasi yang berbeda.

Gedung baru itu, kita suka sekali merenung disana.
Kita melihat langit dari sela-sela dinding yang nampak seperti bingkai jendela, terkadang ada sekumpulan burung yang terbang diudara lalu hinggap dipohon kelapa dekat gedung lama.

Disuatu  senja kita berdiskusi dekat garasi, bermain analogi. 
Masih terngiang, itu tentang layang-layang.

Tak terasa ratusan senja berganti, tanpa sadar kita tak lagi berdiskusi.
Semua waktu yang berlalu tampak mulai semu.
Pertemuan kita saat senja hanya saling menyapa tak lagi bercerita.
Lama-lama kita terbiasa namun tak pernah lupa.
Kita hanya mencoba untuk tidak berubah dengan keadaan yang sudah berubah.

Aku bukan seorang pelupa, namun aku bukan juga seorang pengingat yang baik. Namun satu hal yang kuingat ketika melihat langit senja, yang kuingat itu kamu. Bagian dari senja yang tak terlupa, bahkan setiap warnanya mengingatkanku tentangmu, semua cerita tentang kita



Sabtu, 24 September 2016

Telpon Umum

Reo tak pernah berhenti mencoba, ia selalu menghubungi nomer itu walaupun tak kunjung tersambung. Sejak kematian ibunya, Reo telihat kehilangan arah bahkan sebagian orang mengatakan ia gila. Tapi Reo tak pernah peduli, baginya rasa penyesalan terhadap  ibunya lebih besar dari rasa sakit hati diejek sebagai orang gila. Semua orang didaerah itu selalu tau Reo akan datang pukul 9 pagi dan tetap berada di telpon umum hingga petang. Orang-orang yang bergantian menggunakan telpon umum hanya menoleh ke arahnya tanpa bicara. 

"Re, sudahlah apalagi yang kau coba?" Seorang pria mendekati Reo dengan sepeda gayungnya.

"Sudah kubilang Ger, pesa ibukku harus dilaksanakan. Aku tak mau mengecewakannya lagi" Ucap Reo gelisah.

"Kau percaya apa yang dikatakan ibumu ketika dia setengah sadar saat itu? Coba kau pikir mana bisa menghubungi Tuhan lewat telpon umum? Kurasa kau sudah benar-benar gila, aku bahkan sudah mulai meragukan kewarasanmu." Gery mengomel tanpa henti

"Lebih baik kau pulang saja Ger, bantu ibumu berjualan. Tak usah kau pedulikan aku" Reo mendorong sepeda Gery

Gery tak berbicara lagi, ia mengayuh sepedanya meninggalkan Reo.
Reo kembali menekan nomer telpon itu, 24434 namun lagi-lagi tak terdengar suara apapaun. 
Teringat ketika ibunya masih hidup ia selalu membangkang. Nasihat ibunya tak pernah di hiraukan dan akhirnya ia menyesal saat ini hidupnya menjadi kacau balau. Yang ia ingat malam sebelum meninggal, ibunya membisikkan pesan di telingannya "Re ingat hubungi tuhanmu 24434" bisik ibu Reo lirih. Reo hanya terdiam ia berusaha mencerna perkataan ibunya ia tidak mengerti apa maksud dari perkataan itu saat hendak bertanya tiba-tiba saja tubuh ibu Reo mengalami kenjang dan akhirnya meninggal dunia. Sejak saat itu Reo berusaha untuk melaksanakan pesan ibunya hingga saat ini.

"Mas, mau telpon siapa ya? Dari tadi kok cuma berdiri saja didepan telponnya?" Terdengar suara seorang gadis dari belakang Reo

"Oh ya saya mau telpon tuhan" dengan reflek Reo menjawab

"Hahaha, jangan bercanda mas masa iya menghubungi tuhan lewat telpon, setahu saya sih lewat ibadah mas" gadis itu tertawa heran.

Reo menatap gadis itu, tubuhnya langsing, wajahnya kecil, bibirnya merah. Gadis itu terlihat cantik dengan jilbab merah mudanya. 

"Memang berapa mas nomernya?" Gadis itu melanjutkan pertanyaannya
Reo tersadar dari lamunannya. "24434" jawabnya singkat

Gadis itu terdiam, ia nampak seperti memikirkan suatu hal. Reo ikut terdiam ia nampak heran dengan reaksi gadis itu. 5 menit berlalu akhirnya gadis itu mulai berbicara

"Maaf sebelumnya mas, apa mas ini muslim ya? Saya ingat waktu saya kecil guru agama saya pernah bilang nomer telpon tuhan 24434 yang artinya sholat 5 waktu dimana shubuh 2 rakaat dzuhur 4 rakaat ashar 4 rakaat maghrib 3 rakaat dan isya 4 rakaat" jawab gadis itu sambil menopang dagu.

Reo nampak terkejut ia sadar bahwa hal itulah yang diinginkan ibunya, ia ingat dari dulu ibunya selalu menasehatinya agar rajin sholat tapi ia tak pernah mendengarkannya.
"Silahkan di pakai telponnya, terima kasih ya" Reo menyerahkan ganggang telpon dan tersenyum ke gadis itu.

Gadis itu hanya tersenyum. Lalu azan maghrib terdengar berkumandang, Reo berjalan menuju arah mushola yang berada tak jauh dari telpon umum itu. Dalam hatinya tak henti ia membodohi dirinya sendiri jauh dalam hatinya ia merasa lega mengetahui kebenarannya.